Senin, 04 Mei 2009

quantum ikhas

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://ridwansyahyusufachmad.files.wordpress.com/2008/06/protokol-14-kekeluargaan-dan-perasaan-positif.doc.
G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.

Protokol #14

Kekeluargaan dan Perasaan Positif

Karena kita keluarga, buat kami di GAMAIS tiga rangkaian kata ini memiliki makna yang mendalam. Lebih dari itu tiga kata ini adalah sebuah kekuatan yang menjadi landasan kami membangun semua organisasi dakwah ini. Bukan organisasi sepertinya, akan tetapi kami lebih memilih menyebutnya sebagai keluarga dakwah yang Allah berikan kepada kami. Allah mempertemukan kami di GAMAIS untuk berkeluarga dan merajut sebuah cita dakwah yang mulia. Kekeluargaan menjadi sebuah hal yang sangat berharga dalam sebuah organisasi dakwah. Mengingat bahwa organisasi bersifat non-profit dan mungkin bisa dianggap non-benefit dunia juga untuk beberapa orang.

Peran kekeluargaan ini sangat diharapkan untuk menyatukan hati hati kader dakwah. Perlu diingat semakin berkembangnya sebuah LDK, kader yang tergabung dalam barisan ini lebih bervariatif. Pada awal LDK bisa jadi yang masuk ke LDK adalah seorang yang telah terbina dan mampu membina dengan baik. Akan tetapi, dikala era semakin terbuka, kader yang masih jauh kepahamannya dari Islam pun semakin banyak yang masuk ke LDK. Seperti contoh kader kami masih ada yang belum berjilbab, masih ada yang merokok, masih ada yang banyak melakukan banyak maksiat. Akan tetapi, ini bukan lah hal yang harus diperdebatkan. Justru inilah hal yang harus disyukuri, kenapa ? karena ini menunjukkan dua hal. Pertama, LDK kita telah terbuka dan tidak tampak eksklusif, sehingga semakin banyak orang yang bersedia belajar di LDK kita. Kedua, kita masih harus bersyukur bahwa Allah masih membukakan hati mahasiswa di kampus kita untuk bisa bergabung di LDK. Perlu diingat kembali bahwa LDK bukan tempat orang yang sudah sholeh, akan tetapi LDK adalah tempat orang yang belajar untuk lebih dekat kepada Allah.

Membentuk nuansa keluarga, itulah sebuah langkah awal untuk membuat kader nyaman di LDK. Sehingga, kader akan menjadikan LDK sebagai “rumah” dimana ia berhimpun, bersantai, tempat kembali, tempat mengadu, tempat tertawa dan tempat berjuang bersama. Ketika nuansa nyaman ini bisa dibentuk, maka produktifitas kader pun akan mengikuti. Nuansa keluarga bisa dibentuk dari hal yang sangat sederhana, atau lebih tepatnya memang membentuk nuansa keluarga harus dengan cara yang sederhana.

GAMAIS ITB memulai itu dengan nama dari LDK kami, Keluarga Mahasiswa Islam, dan dengan sebutan pemimpin di LDK yakni, kepala GAMAIS. Keluarga dengan seorang kepala, sehingga perasaan bersahabat muncul sejak awal untuk semua kader kita. Proses kekeluargaan disini terus berlanjut dengan berbagai cara, seperti senantiasa menyebut nama panggilan atau bahkan panggilan akrab kepada sesama kader. Seperti saya punya banyak nama panggilan, ada yang memanggil saya yusuf, ridwan, uChup, bahkan sampai cuppy, buat saya hal ini menunjukan sebuah kedekatan emosional antara kader dakwah. Dalam kondisi dimana usia pemimpin dan kader yang hanya terpaut satu sampai dua tahun, maka cara kharismatik sulit dilakukan, cara yang paling tepat untuk menyentuh hati kader adalah dengan keakraban dan kedekatan emosional.

Terkadang-atau sering mungkin-saya memanggil rekan dakwah saya dengan sebutan “my bro”, atau “my lovely BPH ( badan pengurus harian )” atau “my man” atau “BPH ku tercinta”, mungkin anda akan tertawa melihat panggilan ini, akan tetapi disinilah rasa keluarga itu terbentuk. Biasanya di LDK ada departemen rumah tangga dan kekeluargaan, bisa jadi departemen ini melakukan banyak manuver untuk mendekatkan sesama kader. Saya berpesan kepada kepala departemen rumah tangga dan kekeluargaan GAMAIS, “tugas kamu cuma satu, yakni memastikan semua kader kita bahagia”.

Cara sederhana lainnya, adalah dengan saling mengucapkan dan mendo’akan saat milad salah seorang kader. Di sekre LDK kami, dipasang jadwal milad kader setiap bulan, dan ketika hari-H milad, kami saling memberitahukan bahwa salah seorang kader kita milad, dan hal ini membuat banyak kader kami yang meng-sms, menelepon atau mengucapkan langsung do’a maupun pesan kepada kader yang milad hari tersebut. Sehingga hal ini membuat beliau merasa dihargai dan merasa banyak memperhatikan.

Ingat, bahwa ini adalah lembaga non-profit, yang bisa kita berikan adalah sebanyak-sebanyak penghargaan, mulai dari hal sederhana hingga yang besar kepada kader, agar ia senantiasa nyaman dalam berdakwah. Selanjutnya, makan bersama, cara ini adalah cara paling sering kami lakukan, biasanya kami shalat magrib bersama di masjid Salman ITB, setelah itu kami pergi makan bersama ke tempat makan yang unik, enak atau khas. Bisa dikatakan setiap hari, kami makan bersama setelah magrib, jika keadaan tidak memungkinkan untuk mencari tempat makan yang jauh, kami biasa makan di tempat dekat masjid Salman ITB. Memang jika dilihat, ini merupakan cara yang sangat sederhana, akan tetapi, ketika prosesi makan bersama ini terjadi, kita jadi bisa mengenal satu sama lain, memahami sifat satu sama lain, saling memberikan kepercayaan dengan meminjamkan uang untuk membayar makan ( maklum mahasiswa, kadang sedang tidak ada uang di dompet ). Atau dalam beberapa momen, proses makan bersama ini menjadi momen untuk membuat ide ide yang dahsyat untuk strategi dakwah.

Dalam kesempatan lain, olahraga bersama seringkali dilakukan untuk meningkatkan rasa bahagia dan kekeluargaan. Pekan lalu, kami di BPH GAMAIS mencoba meningkatkan rasa kekeluargaan ini dengan jalan jalan ke kawah putih, ciwidey. Perjalanan ini memang hanya untuk BPH ( maklum kami menjabat 1,5 tahun, jadi butuh di charge ulang ). Dalam perjalanan yang direncanakan mendadak ini, kami memang tidak membuat agenda tertentu di sana, kami memang hanya berniat jalan jalan, tertawa bersama dan bersenang-senang bersama. Alhasil, perjalanan ini sangat berkesan, dimulai dari pemberangkatan, kami harus menunggu angkot hingga 2 jam, sehingga kami belajar saling toleransi, di perjalanan kami bercerita tentang diri masing masing, ada yang melawak, ada yang curhat tentang kuliah, ada yang hanya sekedar “nyampah”, dan kami tidak sama sekali membahas tentang GAMAIS. Sesampainya disana, kekeluargaan ini semakin terasa, ketika kami makan bersama, berfoto-foto di tengah kawah putih bersama hingga akhirnya kami pulang dalam keadaan yang sangat bahagia. Apa yang kami lakukan ini membuat BPH ini semakin dekat dan dekat dan dengan harapan bisa lebih produktif dalam beramal.

Rasa kekeluargaan ini perlu dimulai dengan saling mengenal, tidak hanya saling mengetahui nama dan nomor telepon, akan tetapi perkenalan yang lebih mendalam. Saya terbiasa memulai sebuah tim dengan perkenalan yang lebih mendalam, yakni dengan mengetahui asal kota, tanggal lahir, kisah dibalik nama kita / makna nama , ukuran sepatu, makanan kesukaan, pengalaman unik di masa lalu, dan hal hal pribadi yang sekiranya bisa disampaikan. Dengan mengenal siapa rekan dakwah kita, perasaan dan prasangka yang ada akan selalu positif, karena kita sangat memahami pola pikir saudara kita, dan terbentuk “chemistry” antara sesama kader dakwah.

Mungkin banyak lagi sebetulnya cara cara sederhana, seperti mengirim sms untuk membangunkan shalat tahajud, atau sms berisikan nasehat, atau mungkin sms hanya sekedar untuk menanyakan keadaan dan apakah kawan kita sudah makan siang ? sangat sederhana sekali. Apapun yang dilakukan tentunya dengan sebuah tujuan, yakni untuk memberikan kenyamanan bagi kader dalam beramal.

Dampak dari kekeluargaan adalah perasaan bahagia dari kader di LDK. Perasaan bahagia dalam menjalankan amanah dakwah adalah bekal yang sangat penting dalam beramal, karena ini bisa menjadi sebuah kekuatan dengan pendekatan manusiawi yang akan membuat dakwah kader lebih bertahan lama dan penuh semangat. Pendekatan dengan cara kekeluargaan saya nilai sangat efektif untuk kader dakwah yang baru memulai beramal dakwah, karena cara ini lebih manusiawi dan tidak abstrak. Terkadang pemimpin LDK mencoba mengembalikan semangat kader dengan nasehat dan ceramah dari seorang ustadz, memang ini bisa berhasil, tapi biasanya berhasil untuk kalangan kader yang sudah sangat paham akan dakwah, untuk kader awal, nasehat atau ceramah dari ustadz justru membuat ia jenuh dan malas.

Selanjutnya setelah nuansa kekeluargaan ini terbentuk, kita perlu membangun sebuah perasaan positif dari kader dakwah. Terinspirasi oleh buku Quantum Ikhlas, kader dakwah perlu memiliki keyakinan yang mendalam akan sebuah cita-cita dakwah. Perasaan positif merupakan sebuah perasaan bahagia dari diri ini ketika memikirkan atau menjalankan sesuatu. Berbeda dengan berpikir positif, dimana berpikir positif hanya berkutat di pikiran, akan tetapi pikiran positif belum tentu sesuai dengan perasaan kita. Manusia diciptakan dengan perasaan, manusia juga diciptakan dengan default setting yang sama, dan manusia selalu melangkah tergantung apa yang hati katakan, atau apa yang manusia fokuskan. Sebagai contoh dalam buku Quantum Ikhlas, seorang yang sedang ber-diet, senantiasa berpikiran bagaimana ia bisa langsing, bagaimana ia bisa melakukan diet dengan teratur, akan tetapi ia sebetulnya sedang berfokus atau hatinya sedang tertekan dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang yang gemuk. Hal ini menurut buku tersebut, membuat orang tersebut tidak akan kurus, karena hatinya atau apanya yang difokuskan adalah kata “gemuk”.

Kita perlu menata pikiran dan hati kader kita bahwa “LDK kita sudah baik, dan kita ingin LDK kita lebih baik”. Maksudnya disini, hati kita berkata dan bersyukur bahwa LDK sudah baik, dan kita ingin LDK menjadi lebih baik”, sehingga terjadi sinkronisasi antara hati dan otak, atau istilahnya connection between mind and soul. Hal inilah yang membuat sebuah LDK menjadi besar, keyakinan bahwa LDK kita adalah LDK yang baik yang akan membuat LDK ini baik, dan keyakinan kita yang mengatakan bahwa LDK kita buruk, akan membuat LDK kita akan menjadi buruk. Inilah yang mungkin terjadi pada dunia ke-LDK-an di Indonesia, LDK yang masih mula, senantiasa mengatakan bahwa LDKnya masih kacau, sehingga ia akan fokus pada “kacau”, sedangkan LDK yang sudah mapan, senantiasa mengatakan bahwa LDKnya sudah baik, sehingga akan memberikan dampak, LDKnya menjadi “lebih baik”. Anda adalah apa yang anda pikirkan tentang anda, LDK anda adalah apa yang anda pikirkan tentang LDK anda.

Sedikit bercerita, ketika awal menjadi kepala GAMAIS, LDK kami memang sudah baik, akan tetapi kontribusi ke nasional masih jauh dari harapan, seketika saya memimpin, saya punya pikiran, bahwa GAMAIS adalah LDK yang akan menjadi pionir pergerakan LDK nasional, dan GAMAIS akan menjadi kiblat LDK nasional, perlu di ingat, bahwa saat itu kami belum apa-apa di dunia FSLDK. Akan tetapi keyakinan ini senantiasa saya pegang dan saya sampaikan ke kader, bahwa GAMAIS adalah LDK nasional, dan alhasil, saat ini kader kami punya tanggung jawab lebih untuk berkontribusi secara nasional, dan dalam waktu sekitar 6 bulan setelah saya memimpin, GAMAIS ITB telah menjadi rujukan untuk pengelolaan LDK se-Indonesia. Hanya dimulai dari keyakinan, dan perasaan positif dan bahagia ketika memikirkan hal tersebut.

Kader dakwah perlu ditata dan diajak untuk berpikiran dan berperasaan positif, ketika semua kader punya keyakinan bahwa kita bisa melakukan perubahan, ketika kader dakwah bisa memiliki keyakinan yang mendalam, bahwa ia mampu melakukan perubahan, bahwa LDK kita mampu berkarya, niscaya akan ada dorongan dari dalam, kekuatan dari hati dan bantuan dari Allah untuk memajukan dakwah ini. Karena orang besar dimulai dari pikiran dan jiwa yang besar, LDK besar juga dimulai kader yang senantiasa berpikir dan berjiwa besar.

Rabu, 25 Maret 2009

artikel ekonomi

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://www.dikti.org/files/active/0/Pedoman%20Penulisan%20Ventura.doc.
G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.

Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah (Gaya Selingkung)

Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi: Ventura

KEBIJAKAN PENULISAN

Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi: Ventura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIE Perbanas Surabaya tiga kali setahun. Penerbitan jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas keilmuan, dan menyalurkan minat berbagi serta penyebarluasan pengetahuan bagi para akademisi, mahasiswa, praktisi dan para pemerhati ilmu pengetahuan. Redaksi menerima artikel hasil penelitian yang berkaitan dengan ilmu Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi. Setiap penerbitan terdiri dari 95 sampai 100 halaman atau dengan variasi jumlah halaman kurang lebih 5 halaman dari penerbitan yang satu ke penerbitan selanjutnya.

Artikel yang akan dimuat harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Setelah diterima dari penulis, artikel memasuki tahap seleksi oleh tim redaksi dengan blind review. Kriteria seleksi meliputi kesesuaian penulisan dengan format penulisan baku publikasi Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi Ventura (gaya selingkung), kelayakan topik/bahasan, relevansi metodologi riset yang digunakan, signifikansi kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan profesi yang berkaitan dengan ilmu Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi, serta kekinian rujukan. Review terhadap artikel juga dapat melibatkan mitra bestari – seorang pakar yang independen dari redaksi. Penyunting berhak menyeleksi dan memberikan telaah konstruktif, dan menyampaikan hasil evaluasi kepada penulis artikel. Artikel dapat ditujukan secara elektronik maupun hardcopy ke:

Redaksi Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi: Ventura

d/a Ruang PPPM STIE Perbanas Surabaya

Gedung C lantai 2 STIE Perbanas Surabaya

Jl. Nginden Semolo 34-36 60118

Telp: (031) 5992985, 5947151/52

Fax: (031) 5992985, 593 5937

e-mail: ventura@perbanas.edu dan venturaperbanas@yahoo.com


FORMAT PENULISAN ARTIKEL

  1. Artikel diketik pada kertas kuarto (8.5” x 11”).
  2. Judul artikel dan identitas penulis (nama dan alamat email, dan/atau alamat surat) ditulis di bagian paling atas. Identitas penulis dicantumkan di bawah judul artikel
  3. Panjang artikel tidak lebih dari 7.000 kata atau 15 - 25 halaman berspasi 1 (satu)
  4. Jenis huruf Times New Roman 12
  5. Marjin atas, bawah, kiri dan kanan lebih kurang 1 inci
  6. Kutipan langsung yang panjang (lebih dari tiga setengah baris) diketik dengan jarak baris satu dengan bentuk indented style (bentuk berinden).
  7. Kutipan, gambar atau rujukan harus menyebutkan sumber dan tahun. Format sumber kutipan atau rujukan: Nama Penulis, Tahun, halaman yang dikutip – jika buku. Cara penulisan nama penulis yang karyanya dikutip konsisten dengan cara penulisan nama di daftar rujukan.
  8. Nama penulis dari Indonesia tidak perlu dibalik. Contoh: Indra Bastian, 2006, hal. 90.
  9. Minimal 80% dari rujukan yang digunakan berasal dari sumber yang up to date (diterbitkan tidak lebih dari 10 tahun sebelum karya ilmiah disampaikan ke Ventura)
  10. Mencantumkan nomor urut halaman di bagian bawah
  11. Nomor dan judul tabel dan gambar di bagian atas tabel dan gambar, dicetak tebal. Judul tabel dan gambar diletakkan di bawah nomor tabel dan gambar.
  12. Mencantumkan sumber rujukan tabel dan gambar di bagian bawah tabel dan gambar.
  13. Melampirkan CV penulis di lembar terpisah. CV memuat: alamat rumah dan institusi, nomor telpon yang dapat dihubungi dan nomor telpon institusi, riwayat pendidikan, beberapa judul karya ilmiah dan/atau penelitian terbaru, bidang keahlian/bidang minat penelitian, serta pengalaman kerja dan organisasi.

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL


Rerangka Artikel terdiri dari: (1) judul, (2) abstrak, (3)pendahuluan, (4) rerangka teoritis yang dipakai dan hipotesis (jika ada), (5) metode penelitian, (6) analisis data dan pembahasan, (7) kesimpulan, implikasi dan keterbatasan, (8)daftar rujukan, dan (9)lampiran. Penjelasakn untuk masing-masing sub dalam rerangka artikel adalah sebagai berikut:

Judul Penelitian

Judul harus menggambarkan hasil penelitian dan variabel-variabel, serta hubungan antara variabel tersebut bisa dilihat dalam judul tersebut. Judul artikel hendaknya paling banyak 12 kata.

Abstrak

  • Bagian ini memuat ringkasan artikel dan berisi ide-ide pokok yang membuat pembaca tertarik dan berminat untuk membacanya (eye catching), misalnya masalah, tujuan penelitian, metodologi, temuan dan implikasi.
  • Disusun dalam 1 (satu) paragraph
  • Disajikan di bagian awal di atas dengan font Times New Roman 11
  • Terdiri dari 100 sampai 150 kata.
  • Ditulis dalam Bahasa Inggris.
  • Mencantumkan kata kunci (keywords) disebutkan di bawah paragraf abstrak sebanyak 2 - 5 kata yang sangat khusus dan sering dipakai dalam artikel.



Pendahuluan

Bagian ini berisi latar belakang, alasan penelitian, rumusan masalah, pernyataan tujuan, dan organisasi penulisan. Adapun penulisannya tidak memakai sub judul (sub-heading).

Kerangka Teoritis yang Dipakai dan Hipotesis (jika ada)

Metoda Penelitian

Bagian ini memuat langkah peneliti dalam melakukan penelitian, disajikan secara lengkap namun padat, mulai dari metoda pengambilan sampel sampai dengan teknik analisis.

Analisis Data dan Pembahasan

Analisis data dan pembahasan diungkapkan dengan padat dan jelas, bukan merupakan barisan tabel data.

Kesimpulan, Implikasi dan Keterbatasan

Bagian ini merupakan penutup artikel. Simpulan ditulis tanpa nomor, dan disajikan dalam bentuk paragraf. Implikasi dan keterbatasan penelitian juga disajikan dalam bentuk paragraf.

Daftar Rujukan

Semua kutipan dan rujukan yang digunakan oleh penulis harus disajikan dalam bagian ini konsisten dengan tulisan, gambar atau tabel yang dikutip. Penulisan nama penulis dari Indonesia tidak dibalik, dan cara penulisannya konsisten dengan kutipan di dalam artikel

Lampiran

Lampiran dapat berisi instrumen penelitian, data pendukung, gambar dan sebagainya, yang mendukung kelengkapan artikel dan memudahkan para pembacanya untuk memahami isi tulisan.


Contoh Penulisan Daftar Rujukan

  1. Dari Buku oleh Satu Pengarang

    Bambang Riyanto.1984. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Kedua. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada.

    Indra Bastian. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

b. Dari Buku oleh Dua Pengarang

    Cohen, Morris R, dan Ernest Nagel. 1939. An Introduction to Logic and Scientific Method. New York: Harcourt, Brace & Co.

    c. Dari Buku oleh Tiga Pengarang atau Lebih

    Sukanto, R., et al. 1980. Business Forecasting, Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.



    d. Dari Buku oleh Pengarang yang Sama

    Van Horne, James C. 1986. Financial Management and Policy, Ninth Edition, New Jersey: Prentice-Hall International Editions.

    _______, 1990. Fundamentals of Financial Management, Sixth Edition, New Jersey: Prentice-Hall Inc.

    e. Dari Buku tanpa pengarang

    Author’s Guide. 1975. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.

    Undang-Undang RI No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, Penerbit Handayani, 1992.

    f. Buku oleh Lembaga, Pemerintah dan Organisasi Lain

    R.I., Majelis Musyawarah Rakyat Sementara. 1966. Hasil-hasil Sidang Umum ke IV Tahun 1966, Jakarta: Departemen Penerangan R.I.

    g. Surat Kabar

    Artikel tanpa nama penulis

    Kompas (Jakarta), 28 Pebruari 1995

    Artikel dengan judul dan nama penulis

    Allen, Maury. “A Grwowing Union,” New York Post. March 20, 1998. P. 4.

    Artikel dengan judul tetapi tanpa penulis

    “Terpuruknya Dunia Bisnis Perbankan”, Jawa Pos, 30 September 1998. hal. 3.

    h. Jurnal, Buletin, Majalah dan Penerbitan Berkala

    Irlan Soejono dan A.T. Birowo. 1976. “Distribusi Pendapatan di Pedesaan Padi Sawah di Jawa Tengah”, Prisma, 1, hal. 26-32

    Snitzler, James R. 1958. “How Wholesalers Can Cut Delivery Costs”, Journal of Marketing, 23: pp. 21-28

    i. Hasil Penelitian

    Faisal Kasryno et al. 1981. Perkembangan Institusi dan Pengaruhnya terhadap Distribusi Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja: Studi kasus di Empat Desa di Jawa Barat, Bogor: Studi Dinamika Pedesaan.

    j. Kertas Kerja Diskusi Panel, Seminar dan Lokakarya

    M. Damiri. 1993. “Perbankan di Indonesia, Suatu Tinjauan Era Deregulasi”, Makalah disampaikan pada ceramah Deregulasi Perbankan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya, Surabaya.

    Tim Dosen STIE Perbanas Surabaya. 1994. “Upaya Pemerataan Pembangunan Melalui Sektor Moneter”, Makalah Pelengkap Seminar Perbankan, Surabaya.

    k. Bahan Tidak Diterbitkan (Mimeographed)

    “Perkembangan Sektor Pertanian 1971/1972”. 1972. Jakarta: Departemen Pertanian. (Mimeographed)

    l. Skripsi, Tesis dan Disertasi

    Ida Triwahyuni. 1994. “Pentingnya Analisis Umur Piutang dalam Hubungannya dengan Pengendalian Outstanding Freight di Divisi Feeder PT. Samudera Indonesia Surabaya”, Skripsi Sarjana tak diterbitkan, STIE Perbanas Surabaya.

    m. Artikel dalam Ensiklopedia

    Banta, Richard E., “New Harmony”, Encyclopedia Britanica (1968 ed.), Vol, 16, p. 305

    n. Wawancara

    Burrows, Dr. Lewis. Personal Interview on Puerto Rican Workers in a New York City Hospital, Mt. Sinai Hospital, New York, N.Y., 3 Juni 1998.

  1. Terjemahan dari Pengarang Lain

    Klinchin, A.I. 1957. Mathematical Foundations of Information Theory, diterjemahkan oleh Silverman, R.A. dan Friedman, M.D. New York: Dover.

  1. Internet

Rujukan dari Internet berupa Karya Individual

    Donald, P., Harby, L. & Gary , W. 1998. A Study on Agricultural Area Online Journals, 193-1997: The Poverty among the Rich, (Online), (http://journal.ccs.soton. ac.uk/ study.html, diakses 12 Juni 1998).

Rujukan dari Internet berupa Artikel dari Jurnal

    Hartono. 1999. Peningkatan Kenerrja Buruh Perusahaan melalui Reward System. Jurnal Manajemen , (Online), Jilid 7, No. 3, (http://www.malang.ac.id, diakses 10 Mei 2000).

Rujukan dari Internet berupa E-mail Pribadi

    Sinaga, Jane S. (ventura@perbanas.edu, 31 Oktober 1999. Artikel untuk PPPM, e-mail kepada Sri Lestari. (pppm@perbanas.edu)

Selasa, 17 Maret 2009

lebay

Ples deCh jaNgaN lEbaY.....